Penerapan sistem mutu yang baik adalah fondasi laboratorium yang kompeten dan dipercaya. Untuk mendukung hal tersebut, Labnesia menyelenggarakan pelatihan Quality System Officer ISO/IEC 17025 pada 22–23 Juni 2026. Kegiatan ini diselenggarakan oleh PT Padma Global Nusatama melalui platform Labnesia dan berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting.

Pelatihan berdurasi 24 JP ini diikuti oleh 11 peserta dari berbagai latar belakang. Dalam artikel ini, kami merangkum jalannya kegiatan, materi yang dibahas, dan tugas mandiri yang dikerjakan peserta.

Mengapa Quality System Officer Penting bagi Laboratorium?

Quality System Officer berperan menjaga agar sistem manajemen laboratorium berjalan sesuai persyaratan SNI ISO/IEC 17025:2017. Peran ini menuntut pemahaman menyeluruh, mulai dari ketidakberpihakan, struktur organisasi, sumber daya, hingga proses pengujian dan sistem manajemen.

Karena itu, pelatihan ini dirancang untuk membahas seluruh klausul utama standar secara runtut dan aplikatif.

Peserta dari Beragam Instansi

Pelatihan ini menarik minat peserta dari berbagai sektor dan kota, yaitu:

  • Instansi pemerintah: Labkesda Kutai Timur
  • Sektor swasta: PT Bara Petro Teknik Perkasa (Pekanbaru) dan PT TVS Motor Company Indonesia (Karawang)
  • Perguruan tinggi: Universitas Ibnu Sina (Batam)

Peserta memiliki jabatan yang beragam, antara lain ketua mutu, kepala laboratorium, QA/QC laboratorium, analis, supervisor mutu, dan dosen. Keberagaman ini membuat diskusi semakin kaya karena setiap peserta membawa sudut pandang dari lingkungan kerja masing-masing.

Materi Pelatihan Quality System Officer ISO/IEC 17025

Pelatihan berlangsung pukul 09.00–16.00 WIB selama dua hari. Berikut rangkuman materinya.

Hari Pertama: Infrastruktur Mutu, Akreditasi, dan Persyaratan Organisasi

Kegiatan diawali dengan registrasi, pembukaan, dan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta. Setelah itu, materi dilanjutkan dengan:

  • Infrastruktur mutu, standardisasi, dan akreditasi
  • Peran laboratorium pengujian dan proses akreditasi laboratorium
  • Klausul 4: analisis risiko ketidakberpihakan serta kebijakan dan prosedur kerahasiaan
  • Klausul 5: status legal, struktur organisasi, serta wewenang, tanggung jawab, dan peran personel
  • Klausul 6: kompetensi personel, kondisi lingkungan, ketertelusuran metrologi, serta pengelolaan produk dan jasa eksternal

Di akhir hari pertama, peserta menerima penjelasan mengenai tugas mandiri yang dikerjakan setelah sesi berakhir.

Hari Kedua: Persyaratan Proses dan Sistem Manajemen

Hari kedua berfokus pada penerapan standar dalam operasional laboratorium:

  • Klausul 7: kaji ulang permintaan, tender, dan kontrak; seleksi, verifikasi, dan validasi metode; pengambilan sampel dan penanganan barang uji; keabsahan hasil dan pelaporan; serta analisis keluhan dan ketidaksesuaian
  • Klausul 8: opsi sistem manajemen (A dan B), pengendalian dokumen dan rekaman, serta tindakan risiko dan peluang
  • Audit internal dan kaji ulang manajemen

Kegiatan ditutup dengan post-test untuk melihat peningkatan pemahaman peserta. Sesi ice breaking di sela materi juga menjaga suasana tetap hidup selama pelatihan daring.

Tugas Mandiri: Belajar dari Studi Kasus Nyata

Sebagai bagian dari 24 JP, peserta mengerjakan tugas mandiri berupa tiga studi kasus yang dekat dengan kondisi sehari-hari di laboratorium:

  1. Identifikasi risiko ketidakberpihakan dan kerahasiaan. Peserta menganalisis risiko ketika petugas layanan pelanggan yang juga menerima sampel menjadi akrab dengan pelanggan tetap, lalu menyusun mekanisme untuk meminimalkan risikonya.
  2. Personel. Peserta menjelaskan langkah yang dapat diambil manajer teknis agar analis baru memenuhi kompetensi yang dibutuhkan laboratorium.
  3. Penanganan pekerjaan yang tidak sesuai. Peserta merumuskan alur penanganan ketika hasil uji profisiensi protein pada tepung terigu berstatus outlier, mulai dari identifikasi masalah dan akar permasalahan hingga tindakan perbaikan dan verifikasi penyelesaiannya.

Tugas ini melatih peserta menerapkan persyaratan standar secara langsung, bukan sekadar memahami teorinya.

Sertifikat bagi Peserta

Peserta yang menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan memperoleh sertifikat sebagai peserta dengan beban 24 JP. Sertifikat ditandatangani oleh pemateri, Bekti Trisumaryati, S.Si, M.P., dan Direktur Labnesia, Kurniawan Eka Saputra, S.T.P.

Terima Kasih kepada Seluruh Peserta

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta atas antusiasme dan partisipasinya selama dua hari pelatihan. Semoga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan untuk memperkuat sistem mutu di laboratorium masing-masing.

Ikuti Pelatihan Labnesia Berikutnya

Ingin meningkatkan kompetensi tim laboratorium Anda? Pantau terus website labnesia.id dan media sosial Labnesia untuk informasi pelatihan terbaru seputar ISO/IEC 17025 atau hubungi tim Labnesia untuk mendapatkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan Anda dan laboratorium Anda.